Kamis, 17 September 2015

IKAWANGI JATIM UNTUK ANAK YATIM (Bagian 2)




                                                           Bersama keluarga


Tahun 2013 lalu, aku bermain kerumah pak RT. Ada bocah kecil bersama ayah ibunya disana yang sedang sibuk mengaduk aduk semen pasir. Saat istirahat, aku bertanya, kenapa tidak sekolah.?
Kedua orang tuanya bercerita jika anaknya trauma ke sekolah, sebab selalu di ejek oleh temen-temen sekolahnya karena bajunya yang tidak sama dengan mereka. Bahkan ada oknum guru juga yang tidak bersikap simpatik.

Ku tawarkan untuk sekolah, si anak mau. Tapi orang tuanya yang malah trauma. Lalu setelah panjang lebar ngobrol, akhirnya kedua orang tuanya setuju. Lalu, dapat darimana seragam.? Saat itu aku langsung sms beberapa temen agar bias menyumbangkan seragam bekas anaknya atau saudaranya. Nihil… keberuntungan belum berpihak pada kami.
                                                                 Bersama ketua RT


Hari minggu, aku mendapat SMS agar menghubungi BAZ (Badan Amil Zakat) Kecamatan Kalipuro. Alhamdulillah langsung belanja bersama pihak BAZ, pak RT dan si bocah kecil yang bernama Rudiyanto yang sekarang usianya sudah 9 tahun.

Dan di bulan September 2015 ini, tepatnya pada minggu 13 September 2015. Aku kembali kerumahnya dengan membawa bingkisan seragam sekolah bantuan dari IKAWANGI JAWA TIMUR. Dan kondisi seperti inilah yang tak mampu aku kuasai, ketika satu keluarga berkumpul dengan penuh berkaca-kaca. Mereka mengucapkan banyak terima kasih atas usaha Ikawangi yang telah membantu seragam sekolah anaknya.
                                                       Mencoba Seragam Baru


“Kesuwun ya, “ kata emaknya Rudi, Imsiyah dengan logat usingnya yang kental.
Alhamdulillah, sekarang Rudi sudah punya seragam baru. Maklum saja, seragam yang selama ia pakai masih menggunakan seragam yang dibeli pada tahun 2013 lalu. Using dan banyak yang sobek.
Tapi saat ini, si Rudi yang pendiam sudah sumringah karena bantuan Ikawangi Jawa Timur.

Rabu, 16 September 2015

IKAWANGI JATIM UNTUK ANAK YATIM (Bagian 1)





Hampir setiap malam, di sebelah rumahku selalu terdengar suara ‘sinau’ bocah kecil bersama ibunya. Hal itu rutin dilakukan sang ibu ketika si bocah pulang dari surau. Dan ketika ada anak kecil yang membuat gaduh di rumahnya, biasanya ibu dan anak ini akan pindah ‘sinau’ di rumahku.

Namanya Rangga Rizki Saputra. Bocah berusia 8 tahun ini, sejak usia 7 bulan sudah ditinggal mati oleh ayahnya, almarhum Subur. Sehingga, beban berat untuk menghidupi Rangga kecil ada di pundak ibunya.
Beruntunglah, saat ini Rangga sudah memiliki ayah tiri yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang. Sehingga tidak sampai membuat bocah yang selalu salaman setiap berangkat dan kembali dari mushollah dan sekolah ini berhenti mengenyam pendidikan.

Dan Minggu kemarin, tepatnya pada tanggal 13 September 2015. Bocah kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah ini ku ajak ke pasar untuk belanja keperluan seragam celana hijau dan baju putih serta 1 stel seragam pramuka, plus ATK. Juga seragam batik dan olahraga dari sekolahnya.

Keluarga kecil ini sampai menetskan air mata saat menerima bingkisan seragam dari Ikawangi Jawa Timur. Ibunya hanya terdiam tak mampu mengatakan apapun kecuali ucapan terima kasih untuk Ikawangi.
“Kesuwun, mas. Salam Terima kasih saya untuk Ikawangi Jawa Timur” ungkapnya lirih.

Saat ini, Rangga sudah tidak memakai baju seragam bekas lagi. Dan seperti hari-hari sebelumnya. Bocah hitam manis ini selalu aktif melakukan ritualnya, berangkat dan pulang senantiasa bersalaman tangan dan mengucapkan Assalamualaikum.