Menjelajah wilayah Kalipuro sebelah utara, melintasi hutan belantara, memasuki perkampungan penduduk yang rata-rata penyadap getah pinus. Aku merasakan romantisnya daun-daun mahoni yang berguguran, seolah mengatakan, musim hujan akan segera datang.
Sumber Nanas namanya, salah satu wilayah dipinggir utara Kelurahan Kalipuro. Lokasinya di tengah hutan, barisan rumah-rumah yang sederhana itu sebagai gambaran, jika rumah yang ada di Sumber Nanas tidak boleh di bangun secara permanen. Mengapa? Sebeb, tanahnya milik perhutani.
Masuk semakin ke dalam. Ada bangunan kecil dengan dua pintu dan dua jendela. Bangunannya seperti baru saja dalam perbaikan. sepi, meski salah satu pintunya terbuka. Di halaman ada tiang bendera Merah Putih, kurang lebih empat meter tingginya. Di ujungnya, sang Saka seolah melambaikan tangan, Selamat datang.
Kami mendekat, setelah melepas penat di gardu depan bangunan kecil itu. Di tembok tertulis SD FILLIAL. Ternyata bangunan kecil ini Sekolah Dasar sementara, hanya untuk kelas I dan II. Setelah itu para murid-murid tersebut melanjutkan ke SD IV Kalipuro, untuk melanjutkan ke kelas III yang jaraknya 5 kilometer dari Sumber Nanas.
Seorang pria menyambut kami dan memberi ruang untuk berkumpul dengan 5 siswanya, 3 laki-laki 2 perempuan. Salah satu diantara murid-murid itu Autis..! Namanya, Hawa.
'Jangan menangis' sahabatku berbisik.
Kami berkenalan, kami bercanda, kami belajar lagi bersama mereka, mengeja aksara dan mengucapkan angka-angka.
Meski memiliki keterbelakangan mental, tapi suara Hawa lebih kenceng. Tawanya yang entah untuk Siapa, bisa kami tangkap, bahwa dia ingin belajar, ingin bersama, ingin bisa dan normal seperti teman-teman lainnya.
Nana, sahabatnya, tak pernah lelah membantu menerangkan pada kami, tentang maksud dan tujuan yang di sampaikan oleh Hawa. Meski Nana lebih kecil umurnya, namun sikapnya yang selalu membangun kepercayaan diri si Hawa, membuat kami tertampar.
'Apa yang pernah kau lakukan' bisik sahabatku.
Di balik kesederhanaan dan keterbatasan, 2 gadis kecil itu telah mengajari kami tentang semangat, tentang arti persahabatan, tentang kestiakawanan.
"Hawa, Nana.. Terima kasih, sayang...
Kami meninggalkan mereka, tapi kehadiran mereka tak akan pergi dari relung hati dan jiwa kami.





























