Selasa, 25 Agustus 2015

ANAK-ANAK INI MENAMPARKU (SD FILLIAL)


Menjelajah wilayah Kalipuro sebelah utara, melintasi hutan belantara, memasuki perkampungan penduduk yang rata-rata penyadap getah pinus. Aku merasakan romantisnya daun-daun mahoni yang berguguran, seolah mengatakan, musim hujan akan segera datang.

Sumber Nanas namanya, salah satu wilayah dipinggir utara Kelurahan Kalipuro. Lokasinya di tengah hutan, barisan rumah-rumah yang sederhana itu sebagai gambaran, jika rumah yang ada di Sumber Nanas tidak boleh di bangun secara permanen. Mengapa? Sebeb, tanahnya milik perhutani.
Masuk semakin ke dalam. Ada bangunan kecil dengan dua pintu dan dua jendela. Bangunannya seperti baru saja dalam perbaikan. sepi, meski salah satu pintunya terbuka. Di halaman ada tiang bendera Merah Putih, kurang lebih empat meter tingginya. Di ujungnya, sang Saka seolah melambaikan tangan, Selamat datang.
Kami mendekat, setelah melepas penat di gardu depan bangunan kecil itu. Di tembok tertulis SD FILLIAL. Ternyata bangunan kecil ini Sekolah Dasar sementara, hanya untuk kelas I dan II. Setelah itu para murid-murid tersebut melanjutkan ke SD IV Kalipuro, untuk melanjutkan ke kelas III yang jaraknya 5 kilometer dari Sumber Nanas.

Seorang pria menyambut kami dan memberi ruang untuk berkumpul dengan 5 siswanya, 3 laki-laki 2 perempuan. Salah satu diantara murid-murid itu Autis..! Namanya, Hawa.
'Jangan menangis' sahabatku berbisik.

Kami berkenalan, kami bercanda, kami belajar lagi bersama mereka, mengeja aksara dan mengucapkan angka-angka.

Meski memiliki keterbelakangan mental, tapi suara Hawa lebih kenceng. Tawanya yang entah untuk Siapa, bisa kami tangkap, bahwa dia ingin belajar, ingin bersama, ingin bisa dan normal seperti teman-teman lainnya.
Nana, sahabatnya, tak pernah lelah membantu menerangkan pada kami, tentang maksud dan tujuan yang di sampaikan oleh Hawa. Meski Nana lebih kecil umurnya, namun sikapnya yang selalu membangun kepercayaan diri si Hawa, membuat kami tertampar.

'Apa yang pernah kau lakukan' bisik sahabatku.
Di balik kesederhanaan dan keterbatasan, 2 gadis kecil itu telah mengajari kami tentang semangat, tentang arti persahabatan, tentang kestiakawanan.
"Hawa, Nana.. Terima kasih, sayang...
Kami meninggalkan mereka, tapi kehadiran mereka tak akan pergi dari relung hati dan jiwa kami.

TAMAN BUNGA DI BATU MALANG


Menikmati Kota Batu_Malang, tepatnya di Desa Sidomulyo, benar-benar 'sesuatu' banget. Bagaimana tidak, kota yang terkenal dengan hawa dinginnya ini, mampu menghangatkan setiap pandangan mata dengan beragam bunga-bunga nan indah. Maka tak heran, bila Desa Sidomulyo dikenal dengan nama Desa Kembang.

Di desa tersebut sekitar 1.000 lebih jenis tanaman bunga dibudidayakan, seperti di Dusun Tinjumoyo, Tonggolari dan Sukorembug.
Hampir 90 % penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Dan ± 85% dari penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani, memilih bertani bunga.

Berada di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut dengan suhu sekitar 18-23°C, desa ini merupakan sebuah lahan yang strategis untuk berbagai macam tumbuh kembangnya bunga. Dalam Wisata Bunga ini, anda tidak hanya melihat dan menikmati saja, tapi Anda bersama rombongan juga bisa belajar cara menanam bunga, menyiram dan mempelajari proses mekarnya bunga.

Bagi para pecinta bunga, berwisata ke Sidomulyo merupakan suatu perjalanan yang memanjakan mata. Berderet-deret bunga mawar berbagai warna tumbuh di sepanjang jalanan pedesaan.
Desa Sidomulyo memang dikenal sebagai tempat kulakan bunga-bunga dan tanaman hias. Latar belakang pegunungan dan hawa yang sejuk membuat desa ini makin cantik. Jangan lupa jepret beberapa foto kenangan di area ini ya. Jika tertarik, Anda bisa membeli bunga-bunga tersebut di Pasar Bunga di area tersebut atau langsung ke petani bunganya.

Harga ditentukan berdasarkan jenis bunganya. Beberapa dari bunga yang dibudidayakan adalah krissan, mawar, bambu air, lavender, cemara, beringin putih, anggrek, nusa indah dan puluhan bunga serta tanaman lainnya.

Terima Kasih buat sahabat-sahabat di Batu - Malang

PERAWAN



Aku bertanya tentang peran perawan

Perawan oh perawan

Apakah perawan tinggal kenangan

Ataukah perawan penuh kenangan

Ku kenang perawan di awan

Ku pandang perawan dalam senyuman

Ku pegang perawan melawan

Ku ingin perawan tetap nyaman

Perawan oh perawan

Jangan punah oleh zaman

Meski zaman tidak lagi perawan

Hidup perawan.!!

APAKAH ADA YANG SUKA MEMBACA.??


Ketika ditanya apa aku suka membaca? Iya, aku suka membaca. Tapi tidak bisa dikatakan bahwa membaca adalah hobiku. Aku hanya suka, hanya suka membaca.

Aku suka membaca. Aku suka membaca buku, aku suka membaca artikel, aku suka membaca tulisan singkat yang disebar di grup-grup yang aku ikuti, aku suka membaca cerita dari mereka-mereka yang ada di dekatku, aku suka membaca tulisan berisi 140 karakter yang berbaris rapi di lini masaku, aku suka membaca curahan hati teman-teman mayaku lewat sebuah status yang dia posting, aku suka membaca tulisan yang ada di blog-blog yang aku ikuti, yah, aku suka membaca.

Sama halnya aku suka membaca arti dari tatapan mata orang yang melihatku, ah sepertinya orang ini tidak menyukaiku. Aku juga suka membaca apa maksud Tuhan dengan apa yang terjadi padaku, walau seringnya aku belum bisa memahami apa yang coba kubaca. Aku suka membaca makna lain dari banyak hal yang tak mampu kumengerti, sepertinya Tuhan masih menyimpan jawaban dari tanya yang tak kudapati jawabnya itu, dari ketidak mengertianku itu.

Tapi entah kenapa, saat suasana hatiku sedang tidak bersahabat, membaca sesuatu bisa membuatnya jauh lebih baik. Ketika aku tak tau apa yang bisa membuat hatiku lekas berdamai dengan semuanya, dengan serta merta aku mengunjungi sebuah toko buku; di mana ada berjuta kisah, berjuta cerita, juga banyaknya pola pikir yang menjelma dalam kalimat-kalimat sederhana, yang bermakna tak pernah sederhana, tercetak rapi pada buku-buku yang berdesakan memenuhi ruangan di gedung tiga lantai itu.

Membaca dan mencoba memahami apa yang kubaca, selalu mampu membuat hatiku lekas membaik. Perasaan yang harusnya tidak pernah ada, tiba-tiba menguap seketika. Melayang jauh, seperti balon udara yang lepas dari genggaman tangan mungil seorang bocah kecil, menatap takjub dan kemudian menangis tersedu saat menyadari balonnya jauh dari pandangan, lepas dari genggaman tangan.

Aku tidak berlebihan, memang seperti itulah faktanya. Membaca membuat tanya-tanya yang sempat ada, terjawabkan dengan cara sederhana, sangat sederhana malah. Hanya saja, terkadang aku memperumit semuanya dengan satu tanya; kenapa harus?

Entahlah...

Minggu, 23 Agustus 2015

1 TAHUN PERNIKAHAN KAMI





Hari ini, 23 Agustus 2015, adalah ulang tahun pernikahan kami yang pertama.

Alhamdulillah, kami bias mewarnai hari-hari kami seperti pelangi. Meski usia kami berdua terpaut 20 tahun. Namun kami bias melewati titian hidup berdua dengan penuh kebahagiaan.

Syukur Alhamdulillah Allah SWT telah memberiku setahun kehidupan perkawinan yang luar biasa. Pernikahan dengan Novita istriku sekarang, buatku adalah karunia terbesar dari Allah SWT untuk hidupku.
Apa yang bisa kurefleksikan dari setahun usia pernikahan ini?
Syukur. Itu mungkin ungkapan yang paling pas untuk refleksi ini.

Aku betul-betul menikmati perkawinan yang dikaruniakan Allah SWT ini. Buatku perkawinan ini betul-betul sangat luar biasa. Memiliki pernikahan ini seperti memiliki rumah yang selalu menjadi tempat pulang.
Satu hal yang membuatku sangat nyaman untuk hidup bersama Istriku adalah dia menerimaku apa adanya. Tak ada hal-hal yang perlu kusembunyikan mengenai diriku. Dia dapat menerima kelemahan dan kekuranganku. Dalam keadaan yang sulit dari finansial yang kami alami selama ini, Istriku tak pernah mengeluh sedikit pun. Dia tak pernah menuntut apapun.

Satu tahun telah kami jalani, Kami terus menanam rasa, menyiram jiwa untuk memetik buah dari tumbuh berkembangnya rasa cinta.

Meski catatan ini terbilang singkat karena banyaknya tulisan-tulisan kami yang hilang, tidak mengapa untuk tanda 'POTLOT' kami hari ini.