Rabu, 10 Juni 2015

PELATIHAN JURNALISTIK


Ada satu hal yang paling membuat diriku bahagia. Yaitu ketika aku mampu berbagi. Berbagi apa saja yang penting bisa berdampak baik bagi orang lain.

Seperti kemarin, Selasa 09 juni 2015. Aku di daulat untuk memberikan sedikit pengalaman untuk siswa siswi SMP/MTs yang bergabung dalam kegiatan Banyuwangi Eco School (BES) 2015. Dalam hal ini, aku share tentang bagaimana cara menulis berita bagi siswa.

Kalau ditanya, apakah aku seorang yang pandai menulis.? secara langsung aku mengatakan 'bukan orang yang pandai menulis'. Tapi setidaknya aku bisa menyusun aksara membuat kata. Itu saja. memang tidak bisa dipungkiri, bahwa menulis itu masuk dalam kategori susah gampang. Tapi bagiku, untuk apa dibuat susah jika pada dasarnya memang gampang.

kembali ke pelatihan jurnalistik untuk program BES ini. Ada sekitar 20 murid yang bersamaku di aula Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kab. Banyuwangi. Antusias mereka semakain membuatku terpacu untuk belajar, seperti mereka yang saat ini masih dalam zona pendidikan.

Tidak terlalu rumit yang kusampaikan. Meski bagi orang baru cukup rumit, toh semuanya bisa mudah jika dibiasakan. Pertama aku hanya mengenalkan apa itu jurnalistik. Kemudian ku kenalkan tips-tips menulis dan juga praktek menulis berita bagi mereka.

Bagaimana hasilnya.? cukup lumayan. Seperti pengalamanku waktu dulu yang masih susah membuat kalimat dan menyusunnya menjadi tulisan enak baca. Aku hanya merasa senang, dan mereka pun senang. Dalam bathinku bergumam. Tak akan ada angka yang mampu membeli rasa senang.

waktuku cukup singkat bersama siswa siswi itu. Kurang lebih 2 jam. Alhamdulillah, dari berbagai macam pertanyan-pertanyaan yang dilontarkan peserta BES itu sedikit banyak bisa ku tangkap akan adanya minat. Ya.. Minat untuk menulis tentunya.

Satu ungkapan terakhir yang bisa ku sampaikan pada diriku sendiri lewat mereka. "Menulislah dengan jujur".

WIDIE DAN POTLOT KECIL


Mungkin sesuatu yang usang jika aku harus bicara tentang POTLOT. Dimana Potlot hanyalah susunan bubuk kayu yang membungkus arang hitam. Gunanya untuk menulis aksara dan angka. Dan merangkai nana-nama yang baru kita kenal waktu disekolah.

Bentuk Potlot terbilang masih manual, kalau di istilahkan zaman sekarang. sebab goresan Potlot selalu diludahi jika ada kesalahan kata dalam penyusunan aksara. itu pun jika aku tidak memiliki stip (istilah dulu). dan parahnya. penghapus yang ada di bagian atas atau belakangnya, seringkali jadi korban ke'gemes'an, karena bersifat lentur dan empuk untuk di gigit. Jangan berda'wah tentang kesehatan lagi kalau penghapusnya tinggal gelangnya saja karena digigit. Sebab, zaman dulu, aku belum faham tentang apa arti sehat, selama tidak sakit.

POTLOT ku hari ini adalah menggali kenangan dan tak akan meludahi kesalahan lagi, meski salah kata, biarlah ku maklumi. karena potlot ku hari ini, adalah kebanggaan, meski bagian-bagian dari susunan bubuk kayu itu harus selalu ku 'serut' tatkala si arang patah atau kurang lancip seperti harapan si pengguna.

Dengan POTLOT ini aku akan mengumpulkan kenangan itu, disini.

Aku mungkin terlalu sok-sokan harus menulis tentang Potlot. Sebab potlot dianggap kurang canggih, manipulasi aksara dan kata juga angka. Tapi aku juga punya alasan kenapa harus menggunakan Potlot untuk menulis. Karena bagiku, Potlot itu ibarat DOA yang mampu menghapus kesalahan tanpa harus menyalahkan. potlot itu seperti kepribadian yang lentur. Jujur dan menata hidup untuk lebih teratur. walaupun hasil Potlot tak seterang alat-alat cangkih masa kini.

Tidak harus panjang lebar untuk mengurai tentang Potlot ku. Karena potlot itu kini telah terpendam dimasa lalu. Aku hanya akan menggali, menggali kembali tentang goresan potlot-potlot itu. Meski bubuk kayunya berhamburan, walau stipnya terpatahkan, namun goresan potlot tak akan hilang dalam kenangan.

Widie Nurmahmudy
Banyuwangi, 11 Juni 2015