Mungkin sesuatu yang usang jika aku harus bicara tentang POTLOT. Dimana Potlot hanyalah susunan bubuk kayu yang membungkus arang hitam. Gunanya untuk menulis aksara dan angka. Dan merangkai nana-nama yang baru kita kenal waktu disekolah.
Bentuk Potlot terbilang masih manual, kalau di istilahkan zaman sekarang. sebab goresan Potlot selalu diludahi jika ada kesalahan kata dalam penyusunan aksara. itu pun jika aku tidak memiliki stip (istilah dulu). dan parahnya. penghapus yang ada di bagian atas atau belakangnya, seringkali jadi korban ke'gemes'an, karena bersifat lentur dan empuk untuk di gigit. Jangan berda'wah tentang kesehatan lagi kalau penghapusnya tinggal gelangnya saja karena digigit. Sebab, zaman dulu, aku belum faham tentang apa arti sehat, selama tidak sakit.
POTLOT ku hari ini adalah menggali kenangan dan tak akan meludahi kesalahan lagi, meski salah kata, biarlah ku maklumi. karena potlot ku hari ini, adalah kebanggaan, meski bagian-bagian dari susunan bubuk kayu itu harus selalu ku 'serut' tatkala si arang patah atau kurang lancip seperti harapan si pengguna.
Dengan POTLOT ini aku akan mengumpulkan kenangan itu, disini.
Aku mungkin terlalu sok-sokan harus menulis tentang Potlot. Sebab potlot dianggap kurang canggih, manipulasi aksara dan kata juga angka. Tapi aku juga punya alasan kenapa harus menggunakan Potlot untuk menulis. Karena bagiku, Potlot itu ibarat DOA yang mampu menghapus kesalahan tanpa harus menyalahkan. potlot itu seperti kepribadian yang lentur. Jujur dan menata hidup untuk lebih teratur. walaupun hasil Potlot tak seterang alat-alat cangkih masa kini.
Tidak harus panjang lebar untuk mengurai tentang Potlot ku. Karena potlot itu kini telah terpendam dimasa lalu. Aku hanya akan menggali, menggali kembali tentang goresan potlot-potlot itu. Meski bubuk kayunya berhamburan, walau stipnya terpatahkan, namun goresan potlot tak akan hilang dalam kenangan.
Widie Nurmahmudy
Banyuwangi, 11 Juni 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar